[ Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
] Date Posted:22:12:27 05/12/05 Thu
Aku sempat berpikir berkali2 sebelum menuliskan ini semua di sini. Karena aku tau bahwa Forum ini dibaca oleh anak2 muda yg Modern, Trendy, Smart, Knowledgeable, Funky, Fashionable, Cool dan lain2. Akupun sadar bahwa tulisanku kali ini pasti tdk populis dan sama sekali tdk populer utk ukuran jaman sekarang sehingga taruhannya adalah bahwa tulisanku ini AKAN DIABAIKAN & tdk mustahil aku akan di-cap sebagai manusia kolot, kuno, konservatif & ortodoks. Namun tulisanku sebelumnya yg bertajuk DILARANG BACA !!! itulah yg mendorongku utk menuliskan semua ini di sini. Disamping itu aku akan belajar & berusaha menjadi orang Jawa yg sembadha – berani mempertanggung jawabkan segala perbuatan yg tlah dilakukannya.
Tiada maksud apapun dr penulisan ini, hanya sekedar Sharing Information & sekaligus mengingatkan kpd kita semua bahwa bangsa ini TETAP memiliki berbagai budaya & nilai2 luhur yg masih relevan dgn kondisi & era sekarang.
Budaya2 daerah baik itu budaya Jawa, Sunda, Bali dll, pd prinsipnya memiliki kesamaan nilai2 luhur, namun berbeda karena hanya dibedakan oleh bahasa, adat istiadat, tradisi, tempat & peristiwa yg meliputinya pd saat itu.
Dan aku harap temen2 semua juga mampu & MAU utk Sharing Info mengenai nilai2 luhur dr budaya, adat istiadat & tradisi masing2 (budaya Jawa & non Jawa) agar kita semua juga bisa melakukan lintas budaya.
Aku, djeng Gusti, sebagai orang Jawa tentunya hanya mampu menuliskan SECUIL tentang nilai2 luhur Budaya Jawa. Hangudi Luhuring (Berupaya demi Keluhuran) Budaya Jawa demi Anggayuh Kasampurnaning Urip, Berbudi Bawa Leksana, Ngudi Sajatining Becik (Mencapai Kesempurnaan Hidup, Berjiwa Besar, Mengusahakan Kebaikan Sejati atau In Search of Perfect Life, Noble and Generous Mind In Quest of the Essence of Goodness).
Ada banyak sumber yg bisa dijadikan referensi tentang nilai2 luhur Budaya Jawa, seperti Serat Pepali Ki Ageng Sela, Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV (1811 – 1881 Masehi), Serat Centhini karya Paku Buwono V, Serat Kalatidha karya R. Ng. Ranggawarsita, Pitutur Kyai Semar sebagai Guru Jagad Jawi, dan lain2. Namun kali ini aku hanya mampu memberikan sangat sedikit dari sekian banyak nilai2 luhur Budaya Jawa. Lain waktu (mungkin) aku bisa mengungkapkan yg lbh luas lagi (Insya Allah).
The Last But Not Least, Ini semua adalah SALAH SATU wujud dari rasa kasih & sayangku pada seorang gadis - Sang Dara. Maturnuwun Sanget atas waktu yg tlah kamu sediakan buatku selama ini, walaupun hanya sejengkal namun cukup berarti bagiku. Aku masih di sini, tetap di sini & selalu di sini, walaupun engkau tak pernah mau singgah kendati hanya sejenak ...
SERAT PEPALI KI AGENG SELA
---------------------------
Pepali adalah ajaran yg sifatnya larangan dr para leluhur yg diwariskan secara turun-temurun. Dlm konteks sastra Jawa, pepali termasuk dlm sastra jenis pengajaran. Namun dlm pepali ajaran yg disampaikan diharapkan utk dijalankan karna ajaran itu merupakan warisan yg bersifat khusus. Serat Pepali Ki Ageng Sela merupakan ajaran yg diberikan oleh Ki Ageng Sela kepada orang Jawa agar berjalan sesuai dgn budaya Jawa.
Ki Ageng Sela hidup di zaman pemerintahan Kerajaan Islam Demak terakhir di bawah kekuasaan Kanjeng Sultan Trenggana (+/- abad ke-16 Masehi). Ki Ageng Sela masih keturunan Prabu Brawijaya V (Raja terakhir Majapahit). Ki Ageng Sela merupakan cikal bakal raja Tanah Jawa (Mataram) karna memiliki cucu bernama Ki Gede Pemanahan. Ki Gede Pemanahan menurunkan Panembahan Senopati (Raja Sutawijaya) yg kelak menjadi Raja Mataram. Disamping itu Ki Ageng Sela juga merupakan Guru dari murid yg bernama Jaka Tingkir yg kelak menjadi Raja Pajang dgn Gelar Sultan Hawijaya.
Ki Ageng Sela tersohor sebagai Cendikiawan, Guru & Dalang, termasuk sosok yg ahli dlm bidang Karawitan, Seni Lukis & Seni Ukir. Ki Ageng Sela juga dikenal sebagai tani gedhe (petani yg sukses) & tani mukmin (petani yg shaleh). Selain itu Ki Ageng Sela dikenal pula sebagai orang yg sakti karna mampu menangkap bledeg (halilintar/petir), sehingga beliau mampu mencipta Gambar Petir (sebangsa gambar Makara seperti yg ditemukan di Stupa Sanchi, Stupa Bharut di India) sekaligus Mengukir Petir di Gapura Makam Kesultanan Demak.
Serat Pepali Ki Ageng Sela berisi 112 paragraf atau dlm kesusastraan Jawa dikenal dgn bait, jadi Serat Pepali Ki Ageng Sela berisi 112 bait. Serat Pepali Ki Ageng Sela yg djeng Gusti tulis di sini didasarkan pd teks Serat Pepali Ki Ageng Sela salinan Ki Darmasugita.
Serat Pepali Ki Ageng Sela berisi antara lain :
-----------------------------------------------
Pali iku ajeneng mberkati
Tur selamet sarta kuwarasan
Pepaliningsun mangkene
Aja akarya angkuh
Aja ladak lan aja jail
Aja ati serakah
Alem aja diburu
Lan aja mangan ngiwa
Lamun ladak wong urip agelis mati
Dadya cendhak umurnya
djeng Gusti : Pepali itu memberikan berkat
Juga membuat selamat serta sehat
Adapun pepali-ku (Ki Ageng Sela) adalah demikian
Jangan sampai memiliki watak angkuh
Jgn sombong & jgn jahil
Demikian pula jgn berhati serakah
Jgn gila hormat
Karena orang yg gila hormat pendek umurnya
Dan juga jgn mengambil jalan menyeleweng
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, bait 1)
Aywa saen den idhep ing isin
Aja sira ngegungaken awak
Wong urip kabagusane
Aja keliru bagus
Bagus iku dudu mas picis
Lan dudu sasandhangan
Dudu rupa iku
Wong bagus pakewuh pisan
Sapadhane wong urip pan padha asih
Merak ati warnanya
djeng Gusti : Jangan berwatak tdk tahu malu, sebaliknya hrs tahu malu
Kamu jgn mengunggulkan diri
Karena nilai kelebihan seseorang bukan pada fisiknya
Jgn sampai keliru kelebihan itu
Kelebihan itu bukan EMAS
Dan bukan pula pakaian
Bukan itu yg dimaksudkan (dgn kelebihan)
Kelebihan itu tdk mudah dijangkau
(Jika punya kelebihan seperti itu) pasti dicintai
Karena memang itu sesuatu yg menarik
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, bait 2)
Aja sira watak sugih wani
Aja sira watak ngajak tukar
Aja ngendelken ngelmune
Lan aja dhemen umuk
Aja sira dhemen nyampahi
Aja manah angiwa
Ala kang tinemu
Sing sapa atine ala
Nora wurung ing mbesuk nemu bilai
Wong ala nemu ala
djeng Gusti : Jangan kau berwatak sok pemberani
Jgn kau punya watak senang bertengkar
Jgn kau mengandalkan ngelmu-mu
Dan jgn suka pamer
Jgn kau suka menyumpah
Jgn suka berpikiran menyeleweng
Itu jelek jadinya
Siapa yg hatinya jahat
Ia akan (mudah) menemukan kematian
Orang jahat mendapat kejahatan
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, Bait 8)
Sapa ingkang ndhasaraken becik
Nora wurung mbesuk manggih harja
Satedhak turune tembe
Amberkati wong iku
Nora kena yen dipunaprihtiniru datan kena
Pambekane alus
Pangucape ngarah-arah
Nora pegat grahitane ngati-ati
Lan tan sawiyah-wiyah
djeng Gusti : Siapa yg (selalu hidup) berdasarkan kebaikan
Kelak akan mendapatkan keselamatan
Termasuk anak turunannya
Orang seperti itu tdk dpt diambil
Juga tdk dpt ditiru
Memiliki watak yg halus
Setiap kata selalu dipertimbangkan
Tdk pernah lepas dr kehati-hatian
Dan tdk semaunya sendiri
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, Bait 9)
mBokmanawa sira mbesuk sami
Pan kelakon anak putronira
Miwah saturun-turune
Kelakon dadi agung
Amarentah marang wong cilik
Aja sadaya-daya
Dumadi tan tulus
Nggone dadi pangauban
Ywa sawenang yen mrentah nggowa dugi
Yeku patrap utama
djeng Gusti : Mungkin suatu saat nanti engkau
Atau anak cucu dpt menemui
Ataupun keturunanmu berikutnya
Terlaksana menjadi orang besar
Memerintah atas rakyat kecil
Jangan sesuka hati
Menjadi tdk tulus
Ketika menjadi pelindung
Jangan sewenang-wenang pakailah pertimbangan dlm memerintah
Itulah perbuatan yg utama
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, bait 12)
Datan wurung wong ngalah amanggih luhur
Yakti nora cidra
Yen asih marang sesami
Winales sih sihireng sagung manungsa
djeng Gusti : Akhirnya orang yg suka mengalah menemukan keluhuran
Benar2 tdk membuat kesalahan
Kalau mencintai sesama
Dibalas cinta kasih oleh sesama manusia
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, bait 45)
Wong kang luhur tan ana kang njujug luhur
Awit saka ngandhap
Wit asor wekasan luwih
Witing wirya saka prihatin kang marga
djeng Gusti : Orang luhur tdk ada yg langsung menjadi luhur
Pasti berasal dari bawah dulu
Karena memang bawah adalah awal (dari semua)
Awal kemuliaan berangkat dari jalan prihatin
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, bait 46)
Mukti iku tan njujug kamuktenipun
Yekti saking papa
Angirangi dhahar guling
Saking kaki buyut canggah saturutnya
djeng Gusti : Senang itu tdk langsung dari senang
Sebenarnya dari papa
Mengurangi (nafsu) makan & tidur
Dari sejak nenek moyang & seterusnya
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, bait 47)
Yen binatu ragane dhewe pinesu
Sabar sukar trima
Rumangsa titah Hyang Widhi
Datan keguh yen mulat marang rencana
djeng Gusti : Kalau diri(mu) sendiri melaksanakan tapa brata
Dengan sabar, senang & menerima
Dan merasa ciptaan Tuhan
Tdk akan tergoda apabila datang godaan
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, bait 48)
Sira lamun tresna sih sesaminipun
Samaning manungsa
Kang samya neng donya mangkin
Sadayanya datan ana sinengitan
djeng Gusti : Jika kamu mencintai sesamamu
Sesama manusia
Yg bersama hidup di dunia
Semua tdk saling membenci
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, bait 49)
djeng Gusti : Serta olah kebatinan
Sehingga dpt mengetahui hati sesama manusia
Tenteram hati (manusia) satu dgn lainnya
Manusia utama (luhur) dpt melihat kehendak manusia
(Serat Pepali Ki Ageng Sela, bait 50)
Date Posted:02:50:03 05/13/05 Fri
Sekedar tambahan bahwa Panembahan Senopati yg kelak menjadi Raja Mataram Pertama (Mataram Islam) dengan gelar Sultan Sutawijaya.
Date Posted:16:40:30 07/14/07 Sat
>Sekedar tambahan bahwa Panembahan Senopati yg kelak
>menjadi Raja Mataram Pertama (Mataram Islam) dengan
>gelar Sultan Sutawijaya.
>
>Terimaksih,
>Wassalam,
>
>- djeng Gusti Asmaradana -
Date Posted:21:34:52 06/22/05 Wed
Sugeng enjing/siang/dalu mbak..
Saya ini orang yang lahir di Gunung Kidul, Ngayogyakarta, 22 tahun yang lalu. Tapi sejak umur 5 tahun, saya sudah diajak "minggat" sama ibu saya ke surabaya,katanya sih untuk kehidupan yang lebih baik, gitu..
Jadi klo ada kata-kata saya yang nggak njawani ya saya nyuwun agenging samudra pangaksami nggih mbak..
Saya ini orang yang nol puthul soal kabudayan jawi mbak. Hanya saja, sebagai orang yang masih ada darah kulonan (meski cuman numbang lair) saya juga kepingin (ya biar cuma sebatas pengin mbak) nguri - nguri kabudayan jawi, gitu..
Begini mbak, beberapa waktu yang lalu saya sempat nonton festival nembang/geguritan di Gedung Cak Durasim Surabaya, waktu itu pesertanya membawakan berbagai macam tembang/guritan dari berbagai sastrawan jawa, baik jawi wetanan maupun yang kulonan, gitu..
Nah, waktu itu mbak, saya sempat mendengar sepotong guritan yang diambilkan dari Serat Kalatidha karangan Ki Rangga Warsita,setelah saya dengarkan rasanya potongan guritan itu koq (kalo saya boleh pinjem istilah anak muda sekarang mbak :"gue banget" gitu..)
Nah, sejak itu mbak, saya coba ngutak-atik yang namanya internet buat nyari segala info tentang Ki Rangga ini. Nah sampe akhirnya saya nemuin forumnya mbak Djeng Gusti ini.
Nah, maka dari itu mbak,klo boleh mbok nggih saya ini dibagi beberapa (klo bisa banyak ya syukur) artikel atau apalah mbak yang membahas tentang Serat Kalatidha sekalian dengan Ki Ranggawarsita-nya..
Saya ucapkan terima kasih sebelumnya mbak atas bantuannya, dan semoga saja nantinya lebih banyak lagi generasi kita yang mau nguri-uri kabudayan jawi seperti mbak Djeng Gusti ini, gitu..
Date Posted:17:15:53 09/12/05 Mon
>Kata kakekku, berdasarkan daftar silsilah yang dibut dengan tulisan tangan pada tahun 1932 dan salinannya tahun 1974, aku masih merupakan salah satu keturunan dari Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir dari anak beliau yang bernama Gusti Ayu Datuk Sulaiman. Datuk Sulaiman mempunyai anak yang bernama Asnawi gelar Syarif Abdurrahman yang merantau ke Pulau Bangka (Prop. kep. Bangka Belitung). Di Pulau Bangka Asnawi ini dikenal dengan nama Akik Ning karena keteguhan beliau menyiarkan Islam di Pulau Bangka. Dari Akik Ning ini, lahirlah 6 orang anak, salah satunya Aisyah yang melahirkan anak bernama Nur. Dari Nur, lahir anaknya bernama Ropiah, dari Ropiah lahirlah kakek saya Harun. Dari Harun lahir anaknya Rozi. Dari Akik Ning ini, melahirkan banyak anak yang menurunkan Penduduk Bangka, antara lain Desa Petaling, Desa Tua Tuna, Desa Air Durin dan Kota Pangkalpinang. Untuk itu, bila ada yang mengetahui silsilah anak keturunan Jaka Tingkir atau Pangeran Hadiwijaya, agar dapat menghubungi saya, karena saya ingin memastikan kebenaran cerita kakek saya, silahkan kontak di Abu Ikhsan, 0813 6725 6010, Pangkalpinang.
Date Posted:17:34:55 04/07/06 Fri
saya menurut silsilah adalah keturunan dari eyang jaka tingkir.klo ga salah dalam silsilah saya saya adalh keturunan yang ke 14,mungkin saya adalah keturunan dari selir jaka tingkir,krena dalam silsilah saya,saya adalah keturunan dari pangeran Ondje,sepupu pangeran benowo,atau malah adiknya saya kurang tau...klo sekiranya bapak tau siapa pangeran Ondje bisa menghubungi saya di 085227054460 mungkin kita bisa saling tukar informasi..
Date Posted:18:13:28 04/27/07 Fri
>saya menurut silsilah adalah keturunan dari eyang jaka
>tingkir.klo ga salah dalam silsilah saya saya adalh
>keturunan yang ke 14,mungkin saya adalah keturunan
>dari selir jaka tingkir,krena dalam silsilah saya,saya
>adalah keturunan dari pangeran Ondje,sepupu pangeran
>benowo,atau malah adiknya saya kurang tau...klo
>sekiranya bapak tau siapa pangeran Ondje bisa
>menghubungi saya di 085227054460 mungkin kita bisa
>saling tukar informasi..
Dan yang sangat menarik ialah, ternyata Jaka Tingkir juga masih mempunyai nasab sampai ke Rasulullah SAW. Jaka Tingkir yang juga dikenal sebagai Pangeran Hadiwijaya adalah pendiri Kerajaan Pajang, beberapa saat
setelah surutnya kerajaan Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak Bintara.
Jaka Tingkir punya nama yang menyiratkan bahwa dia seorang
habib: Sayid Abdurrahman Basyaiban. Tahun lalu wartawan Alkisah, Musthafa Helmy, yang berziarah ke makam Mbah Sambu di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, melihat prasasti marmer ukuran kecil dalam bahasa Arab yang menyebutkan bahwa nama Mbah Sambu yang sebenarnya ialah Sayid Abdurrahman bin Hasyim bin Abdurrahman bin Abdullah bin
Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Basyaiban bin
Muhammad Asadullah bin Hassan At-Turabi bin Ali bin
Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sohib Marbat bin Ali Khali'Qasam bin Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad bin Alawi Al Awwal bin Ubaidullah bin
Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi bin Muhammad An-Naqib bin
Ali Uraidhi bin Ja'far As-sodiq bin Muhammad Al Baqir bin
Ali Zainal Abidin bin Sayidina Husain r.a bin Sayidina Ali k.m.w + Sayidatina Fatimah r.a bin MUHAMMAD S.A.W
Menurut H.A. Hamid Wijaya, mantan khatib am Syuriah NahdlatuI Ulama
dan anggota DPR-GR dari Partai NU tahun 1960-an, Sayid Abdurrahman
Basyaiban adalah Jaka Tingkir. Hamid Wijaya sendiri mengaku sebagai
keturunan Jaka Tingkir. Itu sebabnya ia menggunakan nama belakang
Wijaya (dari Hadiwijaya). Setidaknya ada tiga orang keturunan Mbah
Sambu yang menjadi orang besar: Kiai Mutamakkin (Pati), penulis kitab
tasawuf dalam bahasa Jawa (Serat Cabolek), Kiai Saleh Darat (Semarang);
dan K.H. Hasyim Asy'ari;(Jombang), pendiri Nahdlatul Ulama.
Begitulah, sepanjang lima abad - dan abad ke-14 / 15 sampai abad ke-20 -
Islam telah memperkaya khazanah budaya dan kerohanian bangsa-bangsa
di Asia Tenggara. Dan itu semua tiada lain berkat perjuangan dan dakwah
yang gigih, tak kenal lelah, dari para ulama dan mubalig yang sungguh
ikhlas,
baik yang hijrah dari Hadramaut, Gujarat, maupun yang pribumi asli.