Saya ini orang yang lahir di Gunung Kidul, Ngayogyakarta, 22 tahun yang lalu. Tapi sejak umur 5 tahun, saya sudah diajak "minggat" sama ibu saya ke surabaya,katanya sih untuk kehidupan yang lebih baik, gitu..
Jadi klo ada kata-kata saya yang nggak njawani ya saya nyuwun agenging samudra pangaksami nggih mbak..
Saya ini orang yang nol puthul soal kabudayan jawi mbak. Hanya saja, sebagai orang yang masih ada darah kulonan (meski cuman numbang lair) saya juga kepingin (ya biar cuma sebatas pengin mbak) nguri - nguri kabudayan jawi, gitu..
Begini mbak, beberapa waktu yang lalu saya sempat nonton festival nembang/geguritan di Gedung Cak Durasim Surabaya, waktu itu pesertanya membawakan berbagai macam tembang/guritan dari berbagai sastrawan jawa, baik jawi wetanan maupun yang kulonan, gitu..
Nah, waktu itu mbak, saya sempat mendengar sepotong guritan yang diambilkan dari Serat Kalatidha karangan Ki Rangga Warsita,setelah saya dengarkan rasanya potongan guritan itu koq (kalo saya boleh pinjem istilah anak muda sekarang mbak :"gue banget" gitu..)
Nah, sejak itu mbak, saya coba ngutak-atik yang namanya internet buat nyari segala info tentang Ki Rangga ini. Nah sampe akhirnya saya nemuin forumnya mbak Djeng Gusti ini.
Nah, maka dari itu mbak,klo boleh mbok nggih saya ini dibagi beberapa (klo bisa banyak ya syukur) artikel atau apalah mbak yang membahas tentang Serat Kalatidha sekalian dengan Ki Ranggawarsita-nya..
Saya ucapkan terima kasih sebelumnya mbak atas bantuannya, dan semoga saja nantinya lebih banyak lagi generasi kita yang mau nguri-uri kabudayan jawi seperti mbak Djeng Gusti ini, gitu..
Date Posted:17:15:53 09/12/05 Mon
>Kata kakekku, berdasarkan daftar silsilah yang dibut dengan tulisan tangan pada tahun 1932 dan salinannya tahun 1974, aku masih merupakan salah satu keturunan dari Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir dari anak beliau yang bernama Gusti Ayu Datuk Sulaiman. Datuk Sulaiman mempunyai anak yang bernama Asnawi gelar Syarif Abdurrahman yang merantau ke Pulau Bangka (Prop. kep. Bangka Belitung). Di Pulau Bangka Asnawi ini dikenal dengan nama Akik Ning karena keteguhan beliau menyiarkan Islam di Pulau Bangka. Dari Akik Ning ini, lahirlah 6 orang anak, salah satunya Aisyah yang melahirkan anak bernama Nur. Dari Nur, lahir anaknya bernama Ropiah, dari Ropiah lahirlah kakek saya Harun. Dari Harun lahir anaknya Rozi. Dari Akik Ning ini, melahirkan banyak anak yang menurunkan Penduduk Bangka, antara lain Desa Petaling, Desa Tua Tuna, Desa Air Durin dan Kota Pangkalpinang. Untuk itu, bila ada yang mengetahui silsilah anak keturunan Jaka Tingkir atau Pangeran Hadiwijaya, agar dapat menghubungi saya, karena saya ingin memastikan kebenaran cerita kakek saya, silahkan kontak di Abu Ikhsan, 0813 6725 6010, Pangkalpinang.
Date Posted:17:34:55 04/07/06 Fri
saya menurut silsilah adalah keturunan dari eyang jaka tingkir.klo ga salah dalam silsilah saya saya adalh keturunan yang ke 14,mungkin saya adalah keturunan dari selir jaka tingkir,krena dalam silsilah saya,saya adalah keturunan dari pangeran Ondje,sepupu pangeran benowo,atau malah adiknya saya kurang tau...klo sekiranya bapak tau siapa pangeran Ondje bisa menghubungi saya di 085227054460 mungkin kita bisa saling tukar informasi..
Date Posted:18:13:28 04/27/07 Fri
>saya menurut silsilah adalah keturunan dari eyang jaka
>tingkir.klo ga salah dalam silsilah saya saya adalh
>keturunan yang ke 14,mungkin saya adalah keturunan
>dari selir jaka tingkir,krena dalam silsilah saya,saya
>adalah keturunan dari pangeran Ondje,sepupu pangeran
>benowo,atau malah adiknya saya kurang tau...klo
>sekiranya bapak tau siapa pangeran Ondje bisa
>menghubungi saya di 085227054460 mungkin kita bisa
>saling tukar informasi..
Dan yang sangat menarik ialah, ternyata Jaka Tingkir juga masih mempunyai nasab sampai ke Rasulullah SAW. Jaka Tingkir yang juga dikenal sebagai Pangeran Hadiwijaya adalah pendiri Kerajaan Pajang, beberapa saat
setelah surutnya kerajaan Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak Bintara.
Jaka Tingkir punya nama yang menyiratkan bahwa dia seorang
habib: Sayid Abdurrahman Basyaiban. Tahun lalu wartawan Alkisah, Musthafa Helmy, yang berziarah ke makam Mbah Sambu di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, melihat prasasti marmer ukuran kecil dalam bahasa Arab yang menyebutkan bahwa nama Mbah Sambu yang sebenarnya ialah Sayid Abdurrahman bin Hasyim bin Abdurrahman bin Abdullah bin
Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Basyaiban bin
Muhammad Asadullah bin Hassan At-Turabi bin Ali bin
Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sohib Marbat bin Ali Khali'Qasam bin Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad bin Alawi Al Awwal bin Ubaidullah bin
Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi bin Muhammad An-Naqib bin
Ali Uraidhi bin Ja'far As-sodiq bin Muhammad Al Baqir bin
Ali Zainal Abidin bin Sayidina Husain r.a bin Sayidina Ali k.m.w + Sayidatina Fatimah r.a bin MUHAMMAD S.A.W
Menurut H.A. Hamid Wijaya, mantan khatib am Syuriah NahdlatuI Ulama
dan anggota DPR-GR dari Partai NU tahun 1960-an, Sayid Abdurrahman
Basyaiban adalah Jaka Tingkir. Hamid Wijaya sendiri mengaku sebagai
keturunan Jaka Tingkir. Itu sebabnya ia menggunakan nama belakang
Wijaya (dari Hadiwijaya). Setidaknya ada tiga orang keturunan Mbah
Sambu yang menjadi orang besar: Kiai Mutamakkin (Pati), penulis kitab
tasawuf dalam bahasa Jawa (Serat Cabolek), Kiai Saleh Darat (Semarang);
dan K.H. Hasyim Asy'ari;(Jombang), pendiri Nahdlatul Ulama.
Begitulah, sepanjang lima abad - dan abad ke-14 / 15 sampai abad ke-20 -
Islam telah memperkaya khazanah budaya dan kerohanian bangsa-bangsa
di Asia Tenggara. Dan itu semua tiada lain berkat perjuangan dan dakwah
yang gigih, tak kenal lelah, dari para ulama dan mubalig yang sungguh
ikhlas,
baik yang hijrah dari Hadramaut, Gujarat, maupun yang pribumi asli.