|
[> [> [> Subject: Re: Bacaan Ringan
|
Author:
Suryadi
[Edit]
|
Date Posted: 18:13:28 04/27/07 Fri
>saya menurut silsilah adalah keturunan dari eyang jaka
>tingkir.klo ga salah dalam silsilah saya saya adalh
>keturunan yang ke 14,mungkin saya adalah keturunan
>dari selir jaka tingkir,krena dalam silsilah saya,saya
>adalah keturunan dari pangeran Ondje,sepupu pangeran
>benowo,atau malah adiknya saya kurang tau...klo
>sekiranya bapak tau siapa pangeran Ondje bisa
>menghubungi saya di 085227054460 mungkin kita bisa
>saling tukar informasi..
Dan yang sangat menarik ialah, ternyata Jaka Tingkir juga masih mempunyai nasab sampai ke Rasulullah SAW. Jaka Tingkir yang juga dikenal sebagai Pangeran Hadiwijaya adalah pendiri Kerajaan Pajang, beberapa saat
setelah surutnya kerajaan Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak Bintara.
Jaka Tingkir punya nama yang menyiratkan bahwa dia seorang
habib: Sayid Abdurrahman Basyaiban. Tahun lalu wartawan Alkisah, Musthafa Helmy, yang berziarah ke makam Mbah Sambu di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, melihat prasasti marmer ukuran kecil dalam bahasa Arab yang menyebutkan bahwa nama Mbah Sambu yang sebenarnya ialah Sayid Abdurrahman bin Hasyim bin Abdurrahman bin Abdullah bin
Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Basyaiban bin
Muhammad Asadullah bin Hassan At-Turabi bin Ali bin
Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sohib Marbat bin Ali Khali'Qasam bin Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad bin Alawi Al Awwal bin Ubaidullah bin
Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi bin Muhammad An-Naqib bin
Ali Uraidhi bin Ja'far As-sodiq bin Muhammad Al Baqir bin
Ali Zainal Abidin bin Sayidina Husain r.a bin Sayidina Ali k.m.w + Sayidatina Fatimah r.a bin MUHAMMAD S.A.W
Menurut H.A. Hamid Wijaya, mantan khatib am Syuriah NahdlatuI Ulama
dan anggota DPR-GR dari Partai NU tahun 1960-an, Sayid Abdurrahman
Basyaiban adalah Jaka Tingkir. Hamid Wijaya sendiri mengaku sebagai
keturunan Jaka Tingkir. Itu sebabnya ia menggunakan nama belakang
Wijaya (dari Hadiwijaya). Setidaknya ada tiga orang keturunan Mbah
Sambu yang menjadi orang besar: Kiai Mutamakkin (Pati), penulis kitab
tasawuf dalam bahasa Jawa (Serat Cabolek), Kiai Saleh Darat (Semarang);
dan K.H. Hasyim Asy'ari;(Jombang), pendiri Nahdlatul Ulama.
Begitulah, sepanjang lima abad - dan abad ke-14 / 15 sampai abad ke-20 -
Islam telah memperkaya khazanah budaya dan kerohanian bangsa-bangsa
di Asia Tenggara. Dan itu semua tiada lain berkat perjuangan dan dakwah
yang gigih, tak kenal lelah, dari para ulama dan mubalig yang sungguh
ikhlas,
baik yang hijrah dari Hadramaut, Gujarat, maupun yang pribumi asli.
[ Post a Reply to This Message ]
|
|