Bahan diskusi aku sosialisasikan di forum agar teman2 yang mau pada cetak atau baca, atau mau simpan,atau mau kasih tanggapan, atau yang gak bisa dateng bisa ikut menikmati sampelstory-nya. Ini adalah cerita fiksi untuk menggali atau brainstorming dari semua ide yang ada di kepala teman2. Selamat menikmati.
============================================================
HOW THE LOVE DRIVES YOUR EMOTIONS
…..Everyone can see, there’s a change in me,
they all say I’m not the same kids I used to be.
Don’t go out and play, I just dream all day
They don’t know what’s wrong with me
And I’m too shy to say…
(Lyric Lagu “First Love”)
The Outline :
1. Reading Passages (15minutes)
2. Brainstorming (30 minutes)
3. Combining and Uniting the “Puzzle” (10minutes)
4. Assuming Idea (5minutes)
Sample Story:
Suatu hari Imelda sedang berada di sebuah warnet, karena kuliahnya senggang Ia masuk ke Chat-Room, Ia berkenalan dengan seseorang yang menurutnya menarik perhatiannya, karena gaya chatroom-nya menyenangkan dan tidak vulgar. Seseorang itu bernama Arnetta. Dari perkenalan yang menyenangkan ini, mereka berteman dan saling mengirimkan email dan sms.
Beberapa minggu berlalu, dan ketika pada akhirnya mereka sudah merasakan nyaman satu sama lain, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu secara nyata, Janjian di sebuah kedai kopi yang sangat Cozy. Mereka memberikan ciri-ciri pakaian satu sama lain . Imelda berusaha untuk datang lebih dahulu, Ia beusaha menenangkan dirinya karena terasa jantungnya berdegup dengan kencang menantikan saat-saat bertemu dengan seseorang yang terasa sudah akrab tapi terasa baru. Untuk acara ini, Imelda berusaha memberikan penampilan terbaiknya, dengan menggunakan blues Jeans pas tubuh (meski tidak ketat), dengan celana jeansnya. Menggunakan Makeup tipis, pemerah bibir, bulu mata imitasi dan parfum lembut “Lili”-nya Marks & Spencer. Matanya sibuk melirik kesana dan kemari, dengan harapan ia dapat menemukan Arnetta sebelum Arnetta menyadari kehadirannya.
Disebuah tempat yang lain, di kedai Bakso seberang yang ramai, seorang wanita dengan rambut pendek tertata rapi, kulit bersih, sederhana dengan Hem warna kuning muda dan Jeans warna alam hijau lembut, sedang merokok, sambil melihat keluar jendela ke arah kedai kopi yang disinggahi oleh Imelda. Seseorang itu ternyata Arnetta, yang memiliki janji dengan Imelda di kedai kopi. Ia sedang memperhatikan Imelda yang sebentar2 gelisah melihat kesana kemari. Setelah menghabiskan rokoknya, Ia pun membayar makanan, dan segera keluar dari kedai bakso itu. Ia memutuskan untuk berjalan memutar, untuk dapat masuk ke dalam kedai kopi dari pintu yang dibelakangi oleh Imelda.
Imelda melihat jam tangan mungil yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Dan terkejut ketika tiba2 ada seseorang yang manis dan lucu berada di depan mejanya, sambil menyapa, “Ini pasti Imelda deh” Ujar Arnetta yang mengangkat tangannya berlagak memberi hormat kepada komandan. Imelda terbengong hingga Arnetta menyapanya “Halo” sambil tersenyum. Menyadari dirinya terbengong, Imelda segera mengendalikan diri, Ia pun tersenyum sambil tersipu-sipu menjawab “Hai” sejenak ia terdiam. Lalu tergugup melihat Arnetta yang masih berdiri tersenyum memperhatikannya, ia buru-buru mempersilahkan Arnetta duduk, “Maaf, silahkan duduk”. Arnetta menarik kursi yang terletak berseberangan dengan tempat duduk Imelda. “Thanks” ujar Arnetta.
Mereka berdua gugup dalam saling senyum simpul bedua,namun kemudian dengan diawali pembicaraan tentang menu makanan yang ada di kedai kopi tsb, mengalirnlah obrolan-obrolan santai mereka, yang lama kelamaan menjadi sebuah perbincangan yang menarik, sampai kepada topik2 yang biasa mereka perbincangkan melalui email dan sms.
Setelah menyelesaikan minum kopi bersama, karena merasa betah satu sama lain,mereka memutuskan menghabiskan hari minggu tsb untuk berjalan-jalan disekitar Mall, mereka pergi ke took buku, beli es krim, menonton, hingga larut malam, saat mereka harus berpisah kembali. Arnetta mengantarkan Imelda pulang karena saat itu datang dengan Taksi . Setibanya di sebuah rumah yang terlihat nyaman, Arnetta menghentikan mobilnya. “Terima kasih ya,Ar” ujar Imelda. “Kamu gak nawarin aku masuk?” Tanya Arnetta menggoda. “Hmm..kamu mau masuk?” Tanya Imelda dengan perasaan khawatir tapi juga senang. “Mau, tapi gak usah gak papa kok, aku Cuma menggoda aja” Jawab Arnetta dengan senyum manisnya. “Kamu senengannya menggoda ya, tapi, aku seneng kok bisa jalan2 sama kamu hari ini” Jawab Imelda. “Sama dong!” Balas Arnetta. Imelda mengangguk dengan naifnya. “Boleh di ulang ?” Tanya Arnetta. Imelda mengangguk dengan antusias, “besok?” Tanya Imelda. Arnetta tertawa, “Wuih cepetnya ?” Goda Arnetta. Imelda Tersenyum malu menyadari ekspresinya. “Aku besok ada pekerjaan, memang kamu pulang kuliah jam berapa?” Tanya Arnetta. “Jam 4 Sore” Jawab Imelda. “Ya udah, kamu tunggu aja di gerbang kampus ya, nanti aku udah ada disana, Okey?” Usul Arnetta. “He’eh, makasih ya?” Ujar Imelda. “Selamat Bobo ya” Arnetta memberi salam sambil membelai kepala Imelda. Imelda mengangguk dan menjawab, “kamu juga hati2 ya?”. Arnetta mengangguk. Setelah saling memberi salam mereka pun berpisah.
Imelda masuk kedalam rumahnya dengan riang, Kedua orang tuanya yang sedang menonton Televisi, disalaminya dengan riang, dan segera masuk ke kamarnya. Direbahkan tubuhnya di tempat tidur,terlentangg menatapil angit2 yang memberikan pemandangan tentang peristiwa yang ia alami hari ini. Entah kenapa hatinya begitu terasa berbunga-bunga, sesekali ia tersenyum sendiri, dan akhirnya ia segera memutuskan untuk membersihkan dirinya.
Setelah hari pertemuan itu,mereka pun melewati hari-hari selalu bersama-sama, Arnetta, yang usianya lebih tua 4 tahun darinya, membuat ia begitu kagum dengan segala apa yang dimiliki oleh Arnetta. Ia merasa sangat betah berlama-lama dengan Arnetta. Dan rasanya tidak ingin satu hari pun terlewati tanpa Arnetta, entah bertemu, berkegiatan bersama, bertelefon atau berkirim sms.
Hingga suatu sore, saat mereka duduk di tepi pantai, arnetta memberitahukan kepadanya, “mel, Aku harus tugas ke Batam loh besok besok pagi”. Imelda terkejut sejenak ia terdiam sambil menatap Arnetta dalam2, “Kok mendadak sih?” protesnya. “Iya, ada pesanan iklan dari perusahaan di Batam, harusnya yang pergi itu Mas Hari, rekanku, tapi Dia sakit typhus, tadi pagi baru ada kabar dia hospitalized, lalu Big Boss tentukan bahwa yang gantikan ya siapa lagi kalo bukan aku” Jawab Arnetta. Imelda menunduk, dan menatapnya kembali sambil bertanya, “berapa lama ?”. “Katanya sih 7 s/d 10 hari-an” Jawab Arnetta. “Hah ? lama banget ? Sama siapa aja?” Tanya Imelda. “Sama 2 crew cewek lainnya” Jawab Arnetta. “Kenapa cewe sih ? emang gak ada cowoknya?” Protes Imelda lagi.”Ada sih, kalo yang pergi Pak Hari, ya crew-nya cowok, tapi berhubung yang pergi aku, jadi crew-nya juga ganti cewe, kan kebijakan kantor gitu, biar hotelnya murah, bisa pesan 1 aja, lebih hemat ongkos produksi” Arnetta menerangkan. Setelah itu, Imelda diam saja, mmberikan reaksi dan jawaban hanya setengah hati. Ia tidak suka Arnetta pergi, ia merasa hari2 pasti akan sepi, dan entah apa ya, Ia juga tidak mampu menyimpulkan kenapa ia jadi seperti ini, ia tidak suka juga Arnetta pergi dengan 2 crew cewe lainnya, nginep di satu hotel. Tapi ia tidak mengutarakan semua itu kepada Arnetta, ia hanya diam saja, sampai saat mereka berpisah malam itu. Arnetta tidak berani mengusik Imelda yang sedang BT, ia mengerti apa yang dirasakan oleh Imelda, karena ia pun yakin akan juga merasakan hal yang sama. “mel, dah sampe nih. Kamu masih mau jalan-jalan lagi atau mau turun, maaf bukan mengusir, aku khawatir nanti ada orang rumah bingung” ujar Arnetta. “1 putaran lagi deh” Jawab Imelda. Arnetta pun menjalankan mobilnya kembali.
Dalam diammereka menyusuri jalan raya yang diterangi lampu2 jalanan. “Apa yang kamu pikirkan mel?” Tanya Arnetta sambil menoleh ke Imelda. Imelda diam saja, tapi kemudian ia menyandarkan kepalanya di lengan Arnetta, “Aku gak ingin kamu pergi, tapi ini pekerjaan kamu. Jangan lama2 ya?” Pinta Imelda. Arnetta menepikan mobilnya di sebuah tempat yang mungkin untuk berhenti, meraih kepala Imelda dan membelainya.
Ia hadapkan wajahnya ke wajah Imelda. Arnetta menatapinya dengan lembut, didalam benaknya ia pun berpikir, entah bagaimana rasanya berjauhan dengan seseorang yang telah memikat hatinya dan mengisi kesunyiannya beberapa hari terakhir belakangan ini. Mata Imelda mulai berkaca-kaca, Arnetta tidak tega melihatnya, “Dengarlah ini Imelda, Aku pun juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan” ujanya. Imelda masih terdiam. “Kamu tau kenapa?” lanjut arnetta bertanya. Imelda menggeleng, karena ia tidak mampu berpikir saat itu, yang ia tahu, bahwa ia sedih sekali berjauhan dengan Arnetta.
Ini saat ia pertama kali merasa kehilangan yang begitu dalam. Arnetta kemudian meraih kepala Imelda dalam pelukannya, membelai rambutnya yang panjang, dan membisikkan jawabannya,”Karena aku mencintai kamu” Arnetta merasa lega telah menyatakan apa yang ia pendam selama ini.
Imelda melepaskan pelukannya,dan menatap mata Arnetta, “Sungguh ?” tanyanya. Arnetta mengangguk. Mereka berdua saling bertatapan dan perlahan wajah mereka pun saling berdekatan sampai kemudian mereka bertemu dalam sebuah cium yang lembut yang mereka hayati dalam pejaman mata dan dengan sepenuh jiwa mereka. Setelah itu mereka berpelukan kembali. “Cepatlah kembali, dan jangan nakal ya?” pinta Imelda. “nakal?” Tanya Arnetta sambil melepaskan pelukannya dan menatap mata Imelda. “Iya, kamu kan pergi dengan cewe2 yang lain itu”Ujar Imelda setengah merajuk. “Oh itu, Pasti imelda, pasti akui menjaga diriku baik2, legi pula mereka kan bukan seperti kita2” Jawab Arnetta membela diri. “pokoknya jangan nakal” ujar Imelda bersikeras. “Iya deh” Jawab Arnetta mengalah. Setelah itu Mereka pun pulang .
Selama satu minggu, mereka lewati dengan cuaca hati yang tidak menentu, antara khawatir, keinginan untuk bertemu sesegera mungkin, danlain sebaginya berbaur jadi satu sehingga membuat waktu terasa demikian lama untuk di lalui. Beberapa kali terjadi pertengkaran kecil, dengan masalah yang sepele, misalnya imelda yang tidak dapat meraih HP Arnetta , Dan prasangka pun bermunculan., Atau terkadang Imelda menangis sesaat sebelum tidur, karena ia sangat ingin berjumpa dengan Arnetta.
Sepulang dari Batam di suatu sore, Arnetta segera menjemput Imelda dikampusnya ketika malam mulai menjelang, setiba di dalam mobil mereka pun berpelukan dan melepaskan kerinduan mereka, “Kita jalan ya ?” Ajak Arnetta. “Mau kemana sih, kok buru2 amat” Tanya Imelda. “Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat, dan biarkan ini menjadi sebuah kejutan” Jawab Arnetta. Arnetta segera melajukan mobilnya membelah jalan tol.. Sepanjang jalan, mereka sibuk bercerita kegiatan mereka masing-masing, “Kita keluar tol sentul ya ?” Tanya Imelda. Arnetta mengangguk sambil melirik dan tersenyum. Ia menepikan mobilnya, “Sekarang, tutup mata kamu ya?” Pinta Arnetta sambil memberikan sapu tangannya. Imelda pun menurut. Lalu Imelda merasakan mobil telah melaju kembali, “Lama betul sih?” Tanya Imelda. “kira-kira 20 menit lagi ya?” Pinta Arnetta. “Ya udah aku tidur aja” Jawab Imelda. Tidak lama kemudian Arnetta memarkirkan mobilnya langsung masuk kedala garasi sebuah rumah tanpa pagar dan memberitahu, “imelda, sudah sampai, tapi jangan kamu buka dulu ya” biar aku tuntun kamu turun”.
Arnetta membantu Imelda membuka sapu tangan yang menutupi matanya. Sejenak kemudian, Imelda mengerjapkan matanya karena sudah tertutup selama lebih dari 30 menit. “It’s a surprise” Pekik kecil Arnetta. Imelda melihat ke sekeliling, ia menyadari sudah berada di sebuah ruangan dari sebuah rumah mungil yang nyaman. Ia berjalan berkeliling dan menjenguk keluar jendela, ia melihat taman mungil tanpa pagar, lalu ia berbalik menatap arnetta yang masih berdiri tegak di tempat semula, “Dimana kita ?”Tanya Imelda. “Ini rumahku Imelda”, Jawab Arnetta. Imelda menghampiri Arnetta dan memeluknya. “Maukah kamu menjadi belahan jiwaku Imelda?”Tanya Arnetta. Arnetta merasakan kepala Imelda mengangguk di dadanya. Ia melepaskan pelukan nya dan menatap Imelda, “Sudah malam Imelda, telefonlah kerumah , sampaikan bahwa kau tidur dirumah temanmu” Arnetta mengingatkan. “Kita akan bermalam di sini? Tapi aku tidak membawa apa2?” Ujar Imelda. “telephon lah dulu” Jawab Arnetta. Imelda pun mengambil tasnya dan menelfon. Sementara Arnetta masuk kekamar, dan tak lama keluar lagi menghampiri Imelda, menuntunya untuk masuk kekamar. “Sudah aku siapkan alat mandi dan Pakaian bisa kamu ambil di lemari sana, kamar mandinya di sebelah sana ada pintu ya” Arnetta menerangkan. Imelda memperhatikan kamar Arnetta yang nyaman. “Kamu mau kemana ?” Tanya Imelda. “kamu mandilah,aku mau ke dapur, lihat apakah ada sisa makanan untuk kita” Jawab Arnetta. Arnetta mengecup kening Imelda, dan pergi meninggalkannya.
Malam itu, mereka melewati malam bersama, candle lite dinner, dan berdansa berdua. Mereka bahagia. Dan ketika malam semakin larut, Imelda juga sudah merasa mengantuk, Arnetta menggendongnya ke kamar dan meletakkan tubuh Imelda di tempat tidur. “tidurlah Imelda, aku memeriksa pintu ya” Ujar Arnetta. Dan setelah semua selesai, ketika mereka sudah berada di atas tempat tidur, mereka berbaring sambil berhadapan, Imelda tersenyum , begitupun Arnetta. “Selamat tidur Imelda” Arnetta memberi salam, dan mengecupkeningnya, membetulkan letak selimutnya dan mematikan lampu disebelah tempat tidurnya.
Mereka berusaha memejamkan mata,namun tidak bisa, Imelda merasa ada yang harus ia lakukan malam itu, tapi entah kenapa ia tidak berani memulainya. Ia menunggu, tapi Arnetta tetap terdiam, dalam gelap, Imelda melihat wajah Arnetta yang tenang memejamkan mata.
Akhirnya Imelda pun menyerah menunggu, setengah mengulet, ia memasukkan kedua tangannya ke balik bantal, tapi tiba2 ia kaget, ada sesuatu dibawah bantalnya, sebuah kemasan kecil ia mengambilnya dan menyalakan lampu di sebelah nya. Ia menutup bibirnya dengan tangan kirinya, lalu menoleh ke Arnetta yang sudah mulai mendengkur halus. Ia membuka kemasan beludru berwarna merah jambu berbentuk hati itu bertuliskan “For my one and only Love, Imelda”, dan ia melihat sepasang Cincin yang indah tersusun , dengan sebuah surat kecil, yang hanya bertuliskan “Aku melamarmu ! dari: Arnetta”. Imelda melipat kertas kecil itu,memasukkannya kembali dalam kemasan. Ia menggeser tubuhnya memeluk Arnetta dan menciuminya, sampai Arnetta terbagun.. Arnetta yang sudah setengah mengantuk tersenyum, “Surprise !”ujarnya. Imelda mengecup bibir Arnetta dan memberikan kemasan itu kepadanya.
Mereka pun bangun dan duduk di tempat tidur , “So now what?” Tanya Arnetta. Imelda menyodorkan jemari manis tangan kanannya . Arnetta membuka kemasan itu dan mengambil sebuah cincin yang berukuran lebih kecil. Dan memasukkan ke jari Imelda lelu kemudian mencium punggung tangan Imelda. Lalu Imelda mengambil cincin yang berukuran lebih besar dan memasukkan ke jari manis tangan kanan Arnetta dan melakukan hal yang sama. Merekapun bertatapan dengan mesra, lalu melewati malam indah itu untuk yang pertama kali bagi mereka berdua menyatukan seluruh cinta, jiwa dan raga mereka dalam peleburan yang sempurna.
Hari-hari setelah itu berlalu dengan penuh gairah dan semangat dalam menjalani kegiatan,menghadapi kehidupan mereka, yang kadang masih terpisahkan oleh kondisi status sebagai seorang anak, dan tidak bisa selalu terus menerus tinggal satu atap. Sesing kali mereka melewati waktu bersama.Dan semua begitu Indah.
Sampai pada suatu hari, mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa imelda di haruskan menikah dengan pria pilihan orang tuanya dan tidak lagi bisa dihindari. Hal ini membuat hati Arnetta begitu terluka.
Bagaimanakan ujung dari kisah ini ?
Bagaimanakah Cinta mengendalikan seluruh emosi yang ada?
1. Imelda & Arnetta Melawan ketentuan tersebut.
2. Imelda Menikah, Arnetta melepaskannya pergi dan mencari pengganti, lalu Apa yang dilakukan Imelda? Ikhlaskah dia?.
3. Imelda Menikah , Arnetta menjalani hidupnya, dan mereka masih berhubungan secara sembunyi? Mampukah Arnetta menghadapi kenyataan keberadaan suami Imelda?
4. Emotional Driven Apa sajakah yang terkandung didalam cerita ini?
5. Lalu Bagaimana dengan teman2 sekalian ?
Date Posted:17:15:21 01/24/05 Mon
hm .. aku benar2 merasa tersindir :)
makasih telah menulis cerita tersebut. adalah sebuah kisah klasik tentang kehidupan para lesbian ...
akh .. waktunya hampir tiba .. adakah pertanyaan lanjutan? misal ... apakah imelda bisa lepas dari hari H pernikahannya. hehehe kalo yg kasus bisa lepas ini masih jarang sekali kudengar.
Allah .. bantu kami semua untuk tetap bisa berdiri dan yakin akan jalan yang kami pilih. Amin
Date Posted:17:52:40 01/24/05 Mon
kami (aku & Cubes) saat itu memutuskan untuk menghadapi semua berdua.
Cubes menghadapi hari H pernikahannya, aku hadir dan membantunya mempersiapkan semuanya.
Satu hal yang indah dari itu semua, adalah keterikatan kami dalam keprihatinan yang demikian dalam, untuk melampaui semua ini dengan bergandengan tangan.
Aku dengan segala kekuatan memberikan seluruh upaya untuk mengerti dan menerima status Cubes sebagai anak wanita dari Seorang Ibu yang memiliki latar belakang budaya yang luar biasa kuat. Menerima segalanya dengan hati yang sangat lapang, agar Cubes selalu tenang dan tidak berada dalam tekanan, karena keluarga besarnya merupakan public figur.
Cubes, pun melakukan hal yang sama, memberikan seluruh upaya terbaiknya untuk merawat aku, memperhatikan aku, menjaga perasaanku, berupaya dengan segala kekuatan yang ada agar sebuah kesejatian cinta terpelihara dengan baik.
Dan kami akhirnya memang mampu melampauinya dengan baik.
menerima semua ini dengan SATU dasar,
DEMI SEBUAH "KEBAIKAN" DIDALAM HIDUP KITA MASING2.
Dan kami sama-sama saling memiliki pengertian yang begitu dalam, bahwa ini adalah yang terbaik yang TUHAN berikan untuk kita miliki.
Semoga kamu juga memiliki kekuatan yang sama, eksploitasi semua rasa menuju sebuah kebaikan dan kejernihan hati, Tata, agar semua terasa lebih ringan untuk di lampaui.
Pahit dan getir itu indah, ketika kita bisa menikmatinya dengan penuh keihklasan.